Artinya : Dan orang-orang yang telah menempati Kota Madinah dan telah beriman (Ansar) sebelum (kedatangan) mereka (Muhajirin), mereka mencintai orang yang berhijrah kepada mereka. Dan mereka tiada menaruh keinginan dalam hati mereka terhadap apa-apa yang diberikan kepada mereka (orang Muhajirin); dan mereka mengutamakan (orang-orang Muhajirin), atas diri mereka sendiri. Sekalipun mereka memerlukan (apa yang mereka berikan itu). Dan siapa yang dipelihara dari kekikiran dirinya, mereka itulah orang-orang yang beruntung. (Al-Hasyr : 9)
Artinya : Dan mereka memberikan makanan yang disukainya kepada orang miskin, anak yatim dan orang yang ditawan. (Al-Insaan : 8)
Pada jaman sekarang, mungkin mengutamakan orang lain sangat sulit. Dengan berbagai alasan, kebanyakan dari kita lebih mementingkan (mengutamakan) perut sendiri. "Ngapain mikir orang lain, orang lain aja gak mikirin kita".
Meng-UTAMA-kan orang lain... Lihat asal kata dasar, UTAMA yang berarti yang Pertama dan Nomor Satu. Jadi, bisakah kita me-NOMORSATU-kan orang lain? Menjadikan oraang lain yang PERTAMA dari kebutuhan perut kita dan keluarga (Istri dan Anak) saja. Orang lain yang bukan apa-apa kita. Bukan saudara... Bukan keluarga. Bisa nggak kita?
Simak suatu kisah sahabat yang rela lapar hanya untuk meng-UTAMA-kan dan me-MULIA-kan tamu ....
"Pada suatu hari ada orang gunung datang bertamu kepada Rasulullah dan meminta ijin untuk menginap. Rasul menyuruh bertanya pada istri beliau bahwa ada makan apa untuk tamu tadi. Sang istri menjawab tidak ada apa-apa kecuali air minum saja. Kemudian dia disuruh bertanya kepada istri-istri beliau. Dan semua istri beliau menjawab sama bahwa tidak ada apa-apa kecuali air.
Rasul bertanya kepada sahabat, "Siapa yang mau mengijinkan orang tadi untuk menginap di rumahnya?" Salah seorang sahabat mengajukan agar tamu tadi menginap di rumahnya.
Lalu orang tadi pergi bersama sahabat ke rumahnya.
Tanpa diketahui orang tadi, dia bertanya kepada istrinya, "Apakah ada sisa makanan yang dapat kita sajikan untuk tamu kita?" Sang istri menjawab, "Ada sedikit gandum dan susu, tapi itu buat anak-anak kita besok?".
"Kalau begitu cepat kamu sajikan buat tamu kita malam ini. Nanti anak kita menagis, tolong kamu ajak bermain (rayu) agar tidak menangis. Kalau tamu kita sudah masuk kamar, kita pergi ke dapur dan lampu kita matikan" (sambil memukul piring seperti orang makan).
Dan semalaman sahabat bersama keluarganya tidur dengan keadaan perut lapar. Berita tersbut sampai kepada Rasul, dan beliau bersabda, "ALLAH ridha dengan sahabat dan keluarganya tadi".
Bisakah kita seperti itu? Disaat ada tetangga kita tidak bisa tidur karena lapar? Sudahkah kita sedikit memperhatikan mereka?
Kita yang mempunyai kelebihan daripada saudara2 kita yang lain. Kita yang ALLAH memberikan kemudahan harta dibanding teman2 kita....
Mungkin sebagai orang miskin kita hanya memikirkan apa yang kita makan sekarang tanpa berpikir apa yang kita makan besok....
Tapi sebaliknya, orang yang punya kelebihan harta berpikir siapa yang akan kita makan besok tanpa memikirkan sekarang karena hari ini sudah tentu ada...
Semoga yang sedikit ini bisa berguna dan mengugah hati kita untuk bisa sedikit meng-UTAMA-kan, me-NOMORSATU-kan, Menjadikan orang lain PERTAMA. Sedikit saja. Walau sedikit harap jangan memberikan pada orang lain apa yang sudah tidak kita sukai. Walau sedikit harap kita berikan kepada orang lain apa yang masih kita sukai...
Trims dan semoga ALLAH menunjukkan jalan hidayah dan ridha-NYA untuk kita. Amiiin?



Tidak ada komentar:
Posting Komentar